Cerita Dibalik Aksi Heroik Penyelamatan Paus “Paitonah” di PLTU Paiton
Seekor Hiu Paus yang terjerat di salah satunya kanal atau aliran air pendingin PLTU Paiton Probolinggo, menggegerkan warganet. Hiu paus yang dengan panjang seputar 4 mtr. itu kelihatan jelas berenang di aliran air pendingin PLTU Paiton dengan jelas semenjak minggu kemarin serta jadi viral waktu satu account Robex TV menggunggahnya di Medsos.
Tetapi mengevakuasi makluk besar yang populer ganas itu tidak gampang. Team Eksodus Rescue Whale Shark Paiton, memerlukan waktu beberapa hari untuk dapat membawa binatang yang dilindungi itu ke laut terlepas.
Ketua Team Eksodus Rescue Whale Shark Paiton, Letkol Imam Wibowo mengatakan, eksodus berjalan semasa 4 hari semenjak tanggal 16 – 19 September 2019, sampai tidak mengenal waktu. Beberapa cara juga dipakai supaya tidak menyakiti si ikan Hiu Paus yang pada akhirnya dinamakan "Paitonah" itu.
"Kami memakai beberapa cara yang sesuai konsep Animal Walfare dan keamanan serta keselamatan personel . kata Dirut PJB Ini mengingat, medan yakni kanal inlet PLTU Paiton mempunyai kecepatan arus 0, 8 – 1 m/s. Dari beberapa pilihan itu, dipilihlah cara gabungan yaitu memakai jaring kantong yang dikasih frame besi memiliki ukuran 6×4 mtr. dibagian mulut jaring, " papar Imam Wibowo.
Semasa 4 hari itu juga seluruh pihak diikutsertakan dari mulai Kombinasi team Rescue Whale Shark Paiton yang diperintah oleh Letkol Inf Imam Wibowo, Komandan Kodim 0820/Probolinggo terdiri dari Direktorat Konservasi serta Keanekaragaman Resapi Laut – KKP, Direktorat Konservasi serta Keanekaragaman Resapi – KLHK, BPSPL Denpasar, BPSPL Denpasar Wilker Jawa Timur, Ketua HNSI Kota Probolinggo, BBKSDA Jawa Timur, Kantor Cabang Dinas Kelautan serta Perikanan Kabupaten Situbondo sampai Instalasi Dermaga Perikanan Pantai Paiton, Barisan Warga Pengawas.
Semasa 4 hari proses, pekerjaan eksodus diawali semenjak jam 05:00 WIB. Pada Kamis, (19/9/2019) team mengimplementasikan cara gabungan yang disebut perbaikan dari cara-cara awalnya. Proses ini dengan diawali masukkan jaring kantong ke kanal inlet dengan mobile crane memiliki 30 ton. Tetapi, crane tidak kuat meredam jaring kantong yang terikut arus, hingga dilaksanakan pergantian crane dengan kemampuan yang semakin besar yakni 50 ton.
Selain itu, team sekoci berupaya membawa hiu paus dengan memakai umpan ke arah jaring kantong. Pas jam 13:00 WIB, spesies ikan paling besar ini sukses digiring serta masuk ke jaring kantong tanpa ada perlawanan. Sesudah ikan masuk, frame besi dilepaskan serta jaring kantong diikat, agar ditarik oleh sea raider ke arah mulut kanal inlet untuk dibebaskan ke laut terlepas.
Jam 14:00 WIB dalam jarak 3 mil dari mulut kanal inlet, ikan sukses dilepaskan. Dengan cara visual, tidak ada cedera karena proses eksodus ini dan ikan masih bisa berenang dengan cara aktif serta responsive.
Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid memperhatikan ada saat-saat dimana hiu paus sering terpasah ke daerah penangkapan darat. Hal itu searah yang info tercatat yang mengambil sumber dari Elland Yupa Sobhytta, Balai Pengendalian Sumberdaya Pesisir serta Laut (BPSL) Denpasar – Kementerian Kelautan serta Perikanan (KKP) yang mengatakan, ikan hiu paus dengan jumlah beberapa puluh ekor, biasa tampil di wilayah seputar Perairan Pasuruan pada bulan Juli.
Pada bulan Agustus sampai September, kawanan ikan ini akan ke arah Timur ke arah perairan Probolinggo. Selanjutnya mereka bergerak ke perairan Situbondo pada bulan Desember sampai Januari, serta diperkirakan bermigrasi ke Luar Selat Madura ke arah Benua Australia atau ke Sulawesi sampai Filipina.
Tetapi mengevakuasi makluk besar yang populer ganas itu tidak gampang. Team Eksodus Rescue Whale Shark Paiton, memerlukan waktu beberapa hari untuk dapat membawa binatang yang dilindungi itu ke laut terlepas.
Ketua Team Eksodus Rescue Whale Shark Paiton, Letkol Imam Wibowo mengatakan, eksodus berjalan semasa 4 hari semenjak tanggal 16 – 19 September 2019, sampai tidak mengenal waktu. Beberapa cara juga dipakai supaya tidak menyakiti si ikan Hiu Paus yang pada akhirnya dinamakan "Paitonah" itu.
"Kami memakai beberapa cara yang sesuai konsep Animal Walfare dan keamanan serta keselamatan personel . kata Dirut PJB Ini mengingat, medan yakni kanal inlet PLTU Paiton mempunyai kecepatan arus 0, 8 – 1 m/s. Dari beberapa pilihan itu, dipilihlah cara gabungan yaitu memakai jaring kantong yang dikasih frame besi memiliki ukuran 6×4 mtr. dibagian mulut jaring, " papar Imam Wibowo.
Semasa 4 hari itu juga seluruh pihak diikutsertakan dari mulai Kombinasi team Rescue Whale Shark Paiton yang diperintah oleh Letkol Inf Imam Wibowo, Komandan Kodim 0820/Probolinggo terdiri dari Direktorat Konservasi serta Keanekaragaman Resapi Laut – KKP, Direktorat Konservasi serta Keanekaragaman Resapi – KLHK, BPSPL Denpasar, BPSPL Denpasar Wilker Jawa Timur, Ketua HNSI Kota Probolinggo, BBKSDA Jawa Timur, Kantor Cabang Dinas Kelautan serta Perikanan Kabupaten Situbondo sampai Instalasi Dermaga Perikanan Pantai Paiton, Barisan Warga Pengawas.
Semasa 4 hari proses, pekerjaan eksodus diawali semenjak jam 05:00 WIB. Pada Kamis, (19/9/2019) team mengimplementasikan cara gabungan yang disebut perbaikan dari cara-cara awalnya. Proses ini dengan diawali masukkan jaring kantong ke kanal inlet dengan mobile crane memiliki 30 ton. Tetapi, crane tidak kuat meredam jaring kantong yang terikut arus, hingga dilaksanakan pergantian crane dengan kemampuan yang semakin besar yakni 50 ton.
Selain itu, team sekoci berupaya membawa hiu paus dengan memakai umpan ke arah jaring kantong. Pas jam 13:00 WIB, spesies ikan paling besar ini sukses digiring serta masuk ke jaring kantong tanpa ada perlawanan. Sesudah ikan masuk, frame besi dilepaskan serta jaring kantong diikat, agar ditarik oleh sea raider ke arah mulut kanal inlet untuk dibebaskan ke laut terlepas.
Jam 14:00 WIB dalam jarak 3 mil dari mulut kanal inlet, ikan sukses dilepaskan. Dengan cara visual, tidak ada cedera karena proses eksodus ini dan ikan masih bisa berenang dengan cara aktif serta responsive.
Ketua Profauna Indonesia Rosek Nursahid memperhatikan ada saat-saat dimana hiu paus sering terpasah ke daerah penangkapan darat. Hal itu searah yang info tercatat yang mengambil sumber dari Elland Yupa Sobhytta, Balai Pengendalian Sumberdaya Pesisir serta Laut (BPSL) Denpasar – Kementerian Kelautan serta Perikanan (KKP) yang mengatakan, ikan hiu paus dengan jumlah beberapa puluh ekor, biasa tampil di wilayah seputar Perairan Pasuruan pada bulan Juli.
Pada bulan Agustus sampai September, kawanan ikan ini akan ke arah Timur ke arah perairan Probolinggo. Selanjutnya mereka bergerak ke perairan Situbondo pada bulan Desember sampai Januari, serta diperkirakan bermigrasi ke Luar Selat Madura ke arah Benua Australia atau ke Sulawesi sampai Filipina.

Comments
Post a Comment